Sabtu, 20 Oktober 2018

Resensi Kidung Cinta Sejati

Nama : Dwi Ernawati
NPM : 15410204
 Judul : Kidung Cinta Sejati
Pengarang : Kirana Kejora
Penerbit : Euthenia
Tahun Terbit : 2014
Tebal Buku : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman : 152 halaman
Nomor Edisi      : ISBN 978-602-1310-18-2
  Novel Kidung Cinta Sejati karya Kirana Kejora berisi tentang kehidupan dari tokoh Almira (Al) seorang dokter jiwa. Bercerita tentang pekerjaan dan kehidupan hingga sampai kepercintaan sang tokoh. Novel ini beralur mundur, sehingga hal-hal yang disampaikan adalah ketika sang tokoh sudah mengetahui akhir dari sebuah pengalaman-pengalaman yang didapatkan.
Hal pertaman yang disampaikan dalam novel ini adalah tentang Halaman Baru Tanpa Melupakan Masa Lalu. Bagian ini bercerita tentang ingatan Al terhadap Ken (seorang penari yang sekarang menjadi pasien di rumah sakit jiwa), Rembulan (anak dari Ken, yang meninggal karena kanker darah), dan Dirga (teman dari Rembulan). Pada bagian sub judul pertama juga disampaikan tentang kesedihan Al terhadap kesendiriannya, karena Erlangga (Er), pacar Al dulu telah menikah dengan Regina, artis yang terkenal, meninggalnya ibu Al, dan Ara adiknya Al yang pergi dari rumah untuk hidup dengan Rindu, istrinya.
Sekilas ulasan yang disampaikan pada judul pertama menjadi garis besar dalam sebuah cerita. Pada judul selanjutnya ada Aku Memanggilnya Ken. Bab ini terdapat sebuah pasien yang telah berhasil mencuri perhatiannya Al. Ada perempuan berambut panjang hitam berjuntai indah. Perempuan yang sesekali mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit kusam kamarnya, serta melongokkan wajahnya keluar jendela kamar di sela aktivitasnya menulis. Perempuan bernama Kenanga yang berwajah eksotik itu selalu menarik perhatian Al. Rasa penasaran pun ada dalam pikiran Al untuk melihat tulisan yang sedang ditulis Ken. Sampai akhirnya Ken marah dan menjambak, dan menampar Al. Namun tetap mencoba merayu Ken untuk pendekatan emosi dan penyembuhan. Entah kenapa Ken selalu Al. Sampai lamunannya membuat pertengkaran kecil antara Almira dengan Erlangga kekasihnya. 
Tampaknya Ken mengingatkan Al dengan Bulik Wening yang telah hilang lima belas tahun sampai saat itu. Al merindukan Bulik Wening dan ingin menyembuhkannya, karena Bulik Wening juga mengalami gangguan jiwa seperti Ken. Ken memiliki kesamaan dengan Bulik Wening yang telah hilang, dan sampai sekaarang belum ditemukan. Pada bagian Rembulan Sang Buah Hati terdapat titik terang dari identitas dan latar belakang dari seorang Ken (Kenanga). Ken memiliki anak perempuan bernama Rembulan, yang meninggal setahun lalu karena kankr darah. Ken merupakan seorang mantan penari jawa klasik yang hidup sebagai single parents, karena King suaminya meninggalkan Ken dan Rembulan ketika anaknya sedang sakit. Terdapat informasi lain juga, bahwa Sita sahabatnya Ken lah yang mengirim uang untuk pembiayaan Ken selama dititipkan di rumah sakit jiwa. Suta juga menitipkan kunci rumah Ken di rumah kakek Dirga yang tidak lain Dirga adalah teman Rembulan yang sebagai tetangganya Ken. Al dan Ken menjadi akrab dan keadaan Ken pun sudah ada perubahan. Hingga suatu ketika terdapat masalah kecemburuan antara Al dan Er karena kedekatannya Al dengan Ken, sampai merek benar-benar putus. 
Profesi tetaplah profesi. Harus professional dan harus bisa menepati janji kerjanya, apalagi sebagai seorang dokter. Semua tentang Er telah berakhir karena anggapan-anggapan yang penuh dengan keegoisan. Sampai Al bertemu dengan Dirga bocah kecil usia 10 tahun yang pernah diketahui. Hal ini disampaikan pada bagian Dirga Datang di Pintu Gerbang. Waktu itu bocah 10 tahun ingin menemui ibunya Rembulan yang sedang dirawat untuk memberikan kunci rumah yang dulu dititipkan Sita ke Kakeknya Dirga, kemudian bertemu Al dan mengantarkannya kepada Ken. Dirga bertemu dengan Ken, namun Kn malah hendak merebut klung Dirga yang pernah diberikan Rembulan kepada Dirga. Alhasil Dirga lari dan tidak memberikannya. Dirga yang sekarang tinggal di panti asuhan semenjak kakeknya meninggal dan pernah diasuh neneknya namun seringnya dipukul sampai dititipkan ke panti asuhan.
Kedatangan Dirga membuat Al ingin menghampiri rumah Ken. Dan pada bagian Titian Senja Merubung dijelaskan bahwa  Al menghampiri dan memasuki rumah Ken dengan diantar oleh Pak Ren sopir bajaj. Di masuki rumah itu dan dilihat sedetail mungkin setiap sisi ruangan. Al menemukan sebuah majalah yang berisi tentang Mbak Utik yang diidolakan Ken, yang bisa saja untuk proses penyembuahan Ken. Al pun mnmukan sebuah kamar yang didalamnya berisi hampir semua hiasan tempt dari Sabang sampai Merauke. Kamar itu adalah kamar Rembulan, dan tampaknya Ken ingin mengajak anaknya berimajinasi sampai ke ujung dunia.
Begitu hal yang ditemukan di rumah Ken. Di judul Pagi Sunyi Tak Berpenghuni kembali Al dikejutkan dan sekalipun pertanyaan yang membosannya dari sang Ibu tentang putusnya Al dengan Er. Putusnya hubungan Al dan Er menjadi renggangnya hubungan ibu Al dengan Bulik Tutik ibu Er. Sampai pada judul Tatapan Kunci, di sana disampaikan tentang keadaan Ken yang benar-benar sudah sembuh dan Al pun ingin memastikan kesembuhannya dengan mengadakan suatu pentas di halaman rumah sakit waktu itu. Lalu ada Penumpang Gelap, yang di dalamnya disampaikan tentang suatu istri bernama Lara yang sedang pada kebingungan karena suaminya, Hari lebih mencintai Ninin wanita yang sempat menjadi korban aniaya oleh suaminya. Sampai akhirnya Lara meminta Hari untuk menikahi Ninin, dan ketika keduanya menikah, Lara mminta suaminya untuk menceraikan Ninin namun tidak mau bercerai. Akhirnya, Ninin yang mengajukan perceraian kepada Hari, dan setelah kejadian itu membuat Lara menglami sakit jiwa.
Pada bab judul terakhir ada Cahaya Malam yang beisi tentang kisah baru Almira yang mencoba menetapkan hati ke Pak Noto. Laki-laki yang sudah lama menaruh hati ke Almira. Sampai akhirnya kedua orang ini saling membuka hati untuk saling menerima. Setelah kandasnya hubungan Al dengan Er, kini pak Noto merupakan laki-laki yang cukup dewasa untuk menjadi pendamping hidupnya.
Pada novel Kidung Cinta Sejati memiliki penyampaian cerita yang bagus. Penggambaran seorang dokter jiwa yang berhati mulia. Tidak perah ingkar akan kewajibannya sebagai dokter yang untuk menyembuhkan pasiennya. Dokter jiwa adalah dokter yang memiliki tanggungjawab yang berat. Ketekunan dokter Al menjadikan proses penyembuhan Ken berhasil. Dialog masing-masing tokoh disampaikan dengan baik tidak terkecuali. Di dalam novel ini semua tokoh memiliki identitas yang jelas. Penggunaan kata pada novel ini ada beberapa yang menggunakan kata-kata yang sulit untuk dimengerti. Namun, keleahan ini tidak menjadikan suatu cerita berubah pemahaman, karena penjelasan-pejelasan yang secara mendetai dapat mewakili kata-kata yang mungkin masih sulit untuk diketahui. Pada salah satu judul menurut saya sebagai pembaca kurang masuk dalam cerita dalam novel.

Minggu, 23 September 2018

   Hai para pembaca yang bisa baca, saya Dwi Ernawati anak dari yang katanya suami istri Pak Yamto dan Mak Yusmi. Namun, setelah saya menyadari suatu hubungan bawasannya memang benar bahwa mereka adalah suami istri, bukan katanya lagi. Saya anak kedua pastinya. Ini bisa kalian ketahuilah dari nama saya. Entah apa yang melatarbelakangi pemberian nama itu. Katanya dulu mau diberi nama Dwi Apriliani karena selain saya anak kedua, saya juga lahir di bulan April. Nama itu merupakan pemberian Pak De saya atau panggilan kerennya Om. Lalu, diganti menjadi Dwi Ernawati dari 'urun rembug' para Pak De saya. Setiap ada yang tanya arti atau makna nama saya, jelas saya tidak bisa menjelaskan. Hmmm, tampaknya nama saya memang tidak mempunyai arti. Tapi tidak mengapa, karena saya percaya identitas manusia tidak hanya dapat ketahui melalui nama saja, tapi juga bisa melalui hal lain. Hal lain itu baru saya cari saat ini, haha. Tapi sampai sekarang tampaknya belum terlihat. 
    Saya mempunyai kakak bernama Yohana Puji Lestari. Sekarang dia telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak dan suami pastinya. Seiring berjalannya pemikiran seseorang, saya mulai berpikir kenapa saya dan kakak saya itu sangat beda. Tidak mengapa karena manusia itu diciptakan dengan berbagai rupa dan pola pikir yang berbeda namun pada tujuan hidup yang sama pastinya. Saya dan kakak saya memang terlahir berbeda, tapi di sini saya tidak akan membicarakan tentang kakak saya. Jadi yang kalian ketahui hanya saya bukan kakak atau orang tua saya. 
    Baik, saya akan menjelaskan tentang pendidikan saya. Saya pertama masuk sekolah umur 6 tahun, dan sekolah di Taman Kanak-kanak lah namanya. TK yang saya sekolahi yaitu di TK PGRI NGABLAK. TK ini merupakan salah satu TK di Pati tepatnya di desa Ngablak. Sekolah yang pertama yang katanya sekolah yang sangat-sangat menyenangkan. Akan tetapi, sepertinya tidak untuk saya. Bagi saya, yang namanya sekolah adalah tempat yang membuat orang tertekan. Masih saya ingat, kali pertama saya masuk TK yaitu ketika teman-teman yang lain pakai seragam olahraga baru, dan saya belum memakai seragam baru itu. Hal ini karena ketika saya mendapat seragam baru ehh seragamnya kekecilan dan bagian lubang kepala tidak muat. Entah saya yang kecil-kecil sombong atau memang bajunya yang kecil juga saya tidak tahu. Jika teman yang lain TK selama dua tahun, di situ saya hanya satu tahun. Sepertinya orang tua saya sudah memahami bahwa kekanak-kanakan anaknya sudah cukup sampai satu tahun saja.
    Selanjutnya, pendidikan setelah itu adalah sekolah dasar di SD Negeri 04 Ngsblak. Sekolah ini tidak jauh dari TK saya, karena terletak tepat di depan TK PGRI Ngablak. Hanya pindah kelas dan bangku saja yang membedakan, serta berganti guru. Meskipun saya tidak begitu pintar dan sepertinya juga tidak terlalu bodoh, namun saya tidak pernah tinggal kelas. Seperti sewajarnya dan seharusnya, saya menyelesaikan sekolah dasar tepat enam tahun. Saya cukup bersyukur dengan anugrah yang diberikan Tuhan. Di balik kurang pandainya saya, Dia selalu menyertai hidup saya, hingga saya lulus SD dan melanjutkan ke SMP.
    Masa-masa sekolah yang benar-benar terasa yaitu saat masuk SMP. Setelah saya lulus dari SD saya melanjutkan ke SMP Negeri 1 Cluwak. Sekolah ini tidak lagi depannya TK atau SD saya dulu, tapi lebih dekat dengan rumah saya. Tiga tahun saya lalui. Tampaknya sekolah itu menyenangkan. Apalagi dapat bonus teman-teman yang cakep-cakep dan pandai, yang cakep bisa untuk membuat malas sekolah hilang, dan yang pandai bisa lah untuk wadah membuat pintar 'dikit'. Dari tiga tahun sekolah di SMP yang masih saya ingat yaitu ketika diminta keliling aula saat pembelajaran matematika dan tidak hafal rumus. Tradisi itu sudah ada sejak dulu dan ternyata tradisi itu masih ada sampai saat ini. Bermanfaat juga sih hukuman itu. Selain dapat olahraga bisa buat malu juga. Sepertinya tidak faedah banget sekolah saya sampai SMP sekalipun. Alhasil, saya lulus SMP dan lanjut ke SMA seperti yang lain.
    Jujur menuju SMA merupakan pilihan yang membuat dilema. Antara SMK dan SMA sempat saya pikirkan. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih SMA Negeri 1 Tayu. Sekolah yang masih pada lingkup Pati. Sama seperti seharusnya tiga tahun saya sudah lulus, dan lagi-lagi dibuat dilema antara kuliah dan kerja atau nikah, hahaha. Setelah sudah terpikirkan hampir beberapa bulan sepertinya, saya pilih untuk kuliah saja. Saya kuliah di Univeraitas PGRI Semarang, dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan yang dilatarbelakangi karena tidak ada rumus-rumus dan bahasa Inggris ini menjadi faktor utama. Namun, setelah terjalani tampaknya  rumitnya melebihi rumus-rumus dan bahasa Inggris ternyata. Akan tetapi saya mulai tersadarkan bahwa saya tidak salah pilih dengan memilih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Banyak hal yang saya pelajari dan bermanfaat dalam hidup saya. 
    Demikian sedikit deskripsi tentang saya yang dapat saya sampaikan. Meskipun masih banyak hal-hal yang belum tersampaikan, semoga dapat terwakilkan melalui beberapa paragraf yang membingungkan pembaca dan membuat aneh setelah membaca. Terima kasih sudah membaca.