Sabtu, 20 Oktober 2018

Resensi Kidung Cinta Sejati

Nama : Dwi Ernawati
NPM : 15410204
 Judul : Kidung Cinta Sejati
Pengarang : Kirana Kejora
Penerbit : Euthenia
Tahun Terbit : 2014
Tebal Buku : 13 x 19 cm
Jumlah Halaman : 152 halaman
Nomor Edisi      : ISBN 978-602-1310-18-2
  Novel Kidung Cinta Sejati karya Kirana Kejora berisi tentang kehidupan dari tokoh Almira (Al) seorang dokter jiwa. Bercerita tentang pekerjaan dan kehidupan hingga sampai kepercintaan sang tokoh. Novel ini beralur mundur, sehingga hal-hal yang disampaikan adalah ketika sang tokoh sudah mengetahui akhir dari sebuah pengalaman-pengalaman yang didapatkan.
Hal pertaman yang disampaikan dalam novel ini adalah tentang Halaman Baru Tanpa Melupakan Masa Lalu. Bagian ini bercerita tentang ingatan Al terhadap Ken (seorang penari yang sekarang menjadi pasien di rumah sakit jiwa), Rembulan (anak dari Ken, yang meninggal karena kanker darah), dan Dirga (teman dari Rembulan). Pada bagian sub judul pertama juga disampaikan tentang kesedihan Al terhadap kesendiriannya, karena Erlangga (Er), pacar Al dulu telah menikah dengan Regina, artis yang terkenal, meninggalnya ibu Al, dan Ara adiknya Al yang pergi dari rumah untuk hidup dengan Rindu, istrinya.
Sekilas ulasan yang disampaikan pada judul pertama menjadi garis besar dalam sebuah cerita. Pada judul selanjutnya ada Aku Memanggilnya Ken. Bab ini terdapat sebuah pasien yang telah berhasil mencuri perhatiannya Al. Ada perempuan berambut panjang hitam berjuntai indah. Perempuan yang sesekali mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit kusam kamarnya, serta melongokkan wajahnya keluar jendela kamar di sela aktivitasnya menulis. Perempuan bernama Kenanga yang berwajah eksotik itu selalu menarik perhatian Al. Rasa penasaran pun ada dalam pikiran Al untuk melihat tulisan yang sedang ditulis Ken. Sampai akhirnya Ken marah dan menjambak, dan menampar Al. Namun tetap mencoba merayu Ken untuk pendekatan emosi dan penyembuhan. Entah kenapa Ken selalu Al. Sampai lamunannya membuat pertengkaran kecil antara Almira dengan Erlangga kekasihnya. 
Tampaknya Ken mengingatkan Al dengan Bulik Wening yang telah hilang lima belas tahun sampai saat itu. Al merindukan Bulik Wening dan ingin menyembuhkannya, karena Bulik Wening juga mengalami gangguan jiwa seperti Ken. Ken memiliki kesamaan dengan Bulik Wening yang telah hilang, dan sampai sekaarang belum ditemukan. Pada bagian Rembulan Sang Buah Hati terdapat titik terang dari identitas dan latar belakang dari seorang Ken (Kenanga). Ken memiliki anak perempuan bernama Rembulan, yang meninggal setahun lalu karena kankr darah. Ken merupakan seorang mantan penari jawa klasik yang hidup sebagai single parents, karena King suaminya meninggalkan Ken dan Rembulan ketika anaknya sedang sakit. Terdapat informasi lain juga, bahwa Sita sahabatnya Ken lah yang mengirim uang untuk pembiayaan Ken selama dititipkan di rumah sakit jiwa. Suta juga menitipkan kunci rumah Ken di rumah kakek Dirga yang tidak lain Dirga adalah teman Rembulan yang sebagai tetangganya Ken. Al dan Ken menjadi akrab dan keadaan Ken pun sudah ada perubahan. Hingga suatu ketika terdapat masalah kecemburuan antara Al dan Er karena kedekatannya Al dengan Ken, sampai merek benar-benar putus. 
Profesi tetaplah profesi. Harus professional dan harus bisa menepati janji kerjanya, apalagi sebagai seorang dokter. Semua tentang Er telah berakhir karena anggapan-anggapan yang penuh dengan keegoisan. Sampai Al bertemu dengan Dirga bocah kecil usia 10 tahun yang pernah diketahui. Hal ini disampaikan pada bagian Dirga Datang di Pintu Gerbang. Waktu itu bocah 10 tahun ingin menemui ibunya Rembulan yang sedang dirawat untuk memberikan kunci rumah yang dulu dititipkan Sita ke Kakeknya Dirga, kemudian bertemu Al dan mengantarkannya kepada Ken. Dirga bertemu dengan Ken, namun Kn malah hendak merebut klung Dirga yang pernah diberikan Rembulan kepada Dirga. Alhasil Dirga lari dan tidak memberikannya. Dirga yang sekarang tinggal di panti asuhan semenjak kakeknya meninggal dan pernah diasuh neneknya namun seringnya dipukul sampai dititipkan ke panti asuhan.
Kedatangan Dirga membuat Al ingin menghampiri rumah Ken. Dan pada bagian Titian Senja Merubung dijelaskan bahwa  Al menghampiri dan memasuki rumah Ken dengan diantar oleh Pak Ren sopir bajaj. Di masuki rumah itu dan dilihat sedetail mungkin setiap sisi ruangan. Al menemukan sebuah majalah yang berisi tentang Mbak Utik yang diidolakan Ken, yang bisa saja untuk proses penyembuahan Ken. Al pun mnmukan sebuah kamar yang didalamnya berisi hampir semua hiasan tempt dari Sabang sampai Merauke. Kamar itu adalah kamar Rembulan, dan tampaknya Ken ingin mengajak anaknya berimajinasi sampai ke ujung dunia.
Begitu hal yang ditemukan di rumah Ken. Di judul Pagi Sunyi Tak Berpenghuni kembali Al dikejutkan dan sekalipun pertanyaan yang membosannya dari sang Ibu tentang putusnya Al dengan Er. Putusnya hubungan Al dan Er menjadi renggangnya hubungan ibu Al dengan Bulik Tutik ibu Er. Sampai pada judul Tatapan Kunci, di sana disampaikan tentang keadaan Ken yang benar-benar sudah sembuh dan Al pun ingin memastikan kesembuhannya dengan mengadakan suatu pentas di halaman rumah sakit waktu itu. Lalu ada Penumpang Gelap, yang di dalamnya disampaikan tentang suatu istri bernama Lara yang sedang pada kebingungan karena suaminya, Hari lebih mencintai Ninin wanita yang sempat menjadi korban aniaya oleh suaminya. Sampai akhirnya Lara meminta Hari untuk menikahi Ninin, dan ketika keduanya menikah, Lara mminta suaminya untuk menceraikan Ninin namun tidak mau bercerai. Akhirnya, Ninin yang mengajukan perceraian kepada Hari, dan setelah kejadian itu membuat Lara menglami sakit jiwa.
Pada bab judul terakhir ada Cahaya Malam yang beisi tentang kisah baru Almira yang mencoba menetapkan hati ke Pak Noto. Laki-laki yang sudah lama menaruh hati ke Almira. Sampai akhirnya kedua orang ini saling membuka hati untuk saling menerima. Setelah kandasnya hubungan Al dengan Er, kini pak Noto merupakan laki-laki yang cukup dewasa untuk menjadi pendamping hidupnya.
Pada novel Kidung Cinta Sejati memiliki penyampaian cerita yang bagus. Penggambaran seorang dokter jiwa yang berhati mulia. Tidak perah ingkar akan kewajibannya sebagai dokter yang untuk menyembuhkan pasiennya. Dokter jiwa adalah dokter yang memiliki tanggungjawab yang berat. Ketekunan dokter Al menjadikan proses penyembuhan Ken berhasil. Dialog masing-masing tokoh disampaikan dengan baik tidak terkecuali. Di dalam novel ini semua tokoh memiliki identitas yang jelas. Penggunaan kata pada novel ini ada beberapa yang menggunakan kata-kata yang sulit untuk dimengerti. Namun, keleahan ini tidak menjadikan suatu cerita berubah pemahaman, karena penjelasan-pejelasan yang secara mendetai dapat mewakili kata-kata yang mungkin masih sulit untuk diketahui. Pada salah satu judul menurut saya sebagai pembaca kurang masuk dalam cerita dalam novel.

Minggu, 23 September 2018

   Hai para pembaca yang bisa baca, saya Dwi Ernawati anak dari yang katanya suami istri Pak Yamto dan Mak Yusmi. Namun, setelah saya menyadari suatu hubungan bawasannya memang benar bahwa mereka adalah suami istri, bukan katanya lagi. Saya anak kedua pastinya. Ini bisa kalian ketahuilah dari nama saya. Entah apa yang melatarbelakangi pemberian nama itu. Katanya dulu mau diberi nama Dwi Apriliani karena selain saya anak kedua, saya juga lahir di bulan April. Nama itu merupakan pemberian Pak De saya atau panggilan kerennya Om. Lalu, diganti menjadi Dwi Ernawati dari 'urun rembug' para Pak De saya. Setiap ada yang tanya arti atau makna nama saya, jelas saya tidak bisa menjelaskan. Hmmm, tampaknya nama saya memang tidak mempunyai arti. Tapi tidak mengapa, karena saya percaya identitas manusia tidak hanya dapat ketahui melalui nama saja, tapi juga bisa melalui hal lain. Hal lain itu baru saya cari saat ini, haha. Tapi sampai sekarang tampaknya belum terlihat. 
    Saya mempunyai kakak bernama Yohana Puji Lestari. Sekarang dia telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak dan suami pastinya. Seiring berjalannya pemikiran seseorang, saya mulai berpikir kenapa saya dan kakak saya itu sangat beda. Tidak mengapa karena manusia itu diciptakan dengan berbagai rupa dan pola pikir yang berbeda namun pada tujuan hidup yang sama pastinya. Saya dan kakak saya memang terlahir berbeda, tapi di sini saya tidak akan membicarakan tentang kakak saya. Jadi yang kalian ketahui hanya saya bukan kakak atau orang tua saya. 
    Baik, saya akan menjelaskan tentang pendidikan saya. Saya pertama masuk sekolah umur 6 tahun, dan sekolah di Taman Kanak-kanak lah namanya. TK yang saya sekolahi yaitu di TK PGRI NGABLAK. TK ini merupakan salah satu TK di Pati tepatnya di desa Ngablak. Sekolah yang pertama yang katanya sekolah yang sangat-sangat menyenangkan. Akan tetapi, sepertinya tidak untuk saya. Bagi saya, yang namanya sekolah adalah tempat yang membuat orang tertekan. Masih saya ingat, kali pertama saya masuk TK yaitu ketika teman-teman yang lain pakai seragam olahraga baru, dan saya belum memakai seragam baru itu. Hal ini karena ketika saya mendapat seragam baru ehh seragamnya kekecilan dan bagian lubang kepala tidak muat. Entah saya yang kecil-kecil sombong atau memang bajunya yang kecil juga saya tidak tahu. Jika teman yang lain TK selama dua tahun, di situ saya hanya satu tahun. Sepertinya orang tua saya sudah memahami bahwa kekanak-kanakan anaknya sudah cukup sampai satu tahun saja.
    Selanjutnya, pendidikan setelah itu adalah sekolah dasar di SD Negeri 04 Ngsblak. Sekolah ini tidak jauh dari TK saya, karena terletak tepat di depan TK PGRI Ngablak. Hanya pindah kelas dan bangku saja yang membedakan, serta berganti guru. Meskipun saya tidak begitu pintar dan sepertinya juga tidak terlalu bodoh, namun saya tidak pernah tinggal kelas. Seperti sewajarnya dan seharusnya, saya menyelesaikan sekolah dasar tepat enam tahun. Saya cukup bersyukur dengan anugrah yang diberikan Tuhan. Di balik kurang pandainya saya, Dia selalu menyertai hidup saya, hingga saya lulus SD dan melanjutkan ke SMP.
    Masa-masa sekolah yang benar-benar terasa yaitu saat masuk SMP. Setelah saya lulus dari SD saya melanjutkan ke SMP Negeri 1 Cluwak. Sekolah ini tidak lagi depannya TK atau SD saya dulu, tapi lebih dekat dengan rumah saya. Tiga tahun saya lalui. Tampaknya sekolah itu menyenangkan. Apalagi dapat bonus teman-teman yang cakep-cakep dan pandai, yang cakep bisa untuk membuat malas sekolah hilang, dan yang pandai bisa lah untuk wadah membuat pintar 'dikit'. Dari tiga tahun sekolah di SMP yang masih saya ingat yaitu ketika diminta keliling aula saat pembelajaran matematika dan tidak hafal rumus. Tradisi itu sudah ada sejak dulu dan ternyata tradisi itu masih ada sampai saat ini. Bermanfaat juga sih hukuman itu. Selain dapat olahraga bisa buat malu juga. Sepertinya tidak faedah banget sekolah saya sampai SMP sekalipun. Alhasil, saya lulus SMP dan lanjut ke SMA seperti yang lain.
    Jujur menuju SMA merupakan pilihan yang membuat dilema. Antara SMK dan SMA sempat saya pikirkan. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih SMA Negeri 1 Tayu. Sekolah yang masih pada lingkup Pati. Sama seperti seharusnya tiga tahun saya sudah lulus, dan lagi-lagi dibuat dilema antara kuliah dan kerja atau nikah, hahaha. Setelah sudah terpikirkan hampir beberapa bulan sepertinya, saya pilih untuk kuliah saja. Saya kuliah di Univeraitas PGRI Semarang, dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan yang dilatarbelakangi karena tidak ada rumus-rumus dan bahasa Inggris ini menjadi faktor utama. Namun, setelah terjalani tampaknya  rumitnya melebihi rumus-rumus dan bahasa Inggris ternyata. Akan tetapi saya mulai tersadarkan bahwa saya tidak salah pilih dengan memilih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Banyak hal yang saya pelajari dan bermanfaat dalam hidup saya. 
    Demikian sedikit deskripsi tentang saya yang dapat saya sampaikan. Meskipun masih banyak hal-hal yang belum tersampaikan, semoga dapat terwakilkan melalui beberapa paragraf yang membingungkan pembaca dan membuat aneh setelah membaca. Terima kasih sudah membaca.

    
   

Rabu, 21 Desember 2016

Mengomentari Masa Depan Demokrasi Digital Indonesia
Saya setuju apabila masa depan demokrasi digital Indonesia sangat dipengaruhi oleh pengguna yang baik, semisal dengan penerapan kode etika dalam bermedia sosial. Kode etika di sini salah satunya yaitu dengan penerapan bahasa yang konstruktif daripada deskruktif, selain itu pengguna juga harus pandai mengakses hal-hal yang memang sepatutnya baik untuk diakses. Media sosial internet memang sangat mudah untuk digunakan oleh setiap orang. Internet telah berkembang menjadi bagian esensial dari kehidupan manusia modern saat ini. Dari setiap masa ke masa telah menjadikannya semakin mudah diakses dalam bentuk perangkat bergerak. Kebanyakan, internet diakses melalui perangkat bergerak seperti telepon pintar sehingga tidak heran bila dari setiap orang dalam telepon pintarnya memiliki berbagai aplikasi internet. Suatu demokrasi menjadi hidup di era sekarang karena keberadaan informasi dan teknologi yang cepat. Oleh karena itu, masyarakat bisa memanfaatkan internet secara bebas dan luas. Namun, di balik kebebasan itu dapat menimbulkan dampak negatif bagi pengguna internet yang tidak jeli dalam memilah-milah bahan yang akan diakses. Akan tetapi, masyarakat satu dengan yang lain belum memiliki visi yang sama dalam melihat internet sebagai media aspirasi, artikulasi kepentingan, dan advokasi sehingga perlu upaya yang tegas untuk menangani masalah ini supaya pengguna internet bisa mengakses setiap apapun yang diinginkan dengan prosedur yang baik.


Balasan Surat

Selamat malam, Bapak dosen Penulisan Media Massa yang saya hormati. Puji Tuhan kabar saya baik Pak. Dari hari-hari yang sudah terlewatkan sepertinya banyak hal yang terjadi dalam hidup saya.  Entah mulai dari hal-hal yang teramat kecil bahkan sampai hal yang teramat besar. Lalu, dari suatu hal yang penting sampai hal yang tak begitu penting. Tetapi saya mencoba menikmati itu semua. Harapan saya, semoga saya bisa melewati di hari yang akan datang dengan menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin diperbaharui di dalam Tuhan.
 Terima kasih atas perhatian Bapak melalui surat ini. Meski harus melalui banyak kata-kata yang sekirannya bisa membuat hati ini gemas. Tapi tidak apalah, hati ini sudah cukup terbiasa mengalami itu semua. Satu hal yang saya sayangkan yaitu, kami tidak bisa bertemu kepada Bapak dalam forum perkuliahan yang biasa kita lakukan di hari Senin pukul 10.50 WIB dikarenakan adanya suatu tugas yang tidak bisa Bapak tinggalkan.
Surat ini saya buat dalam kondisi hati yang bisa terbilang setengah muram dan setengah bahagia, serta dalam kondisi tubuh yang tidak begitu sehat. Mungkin ini salah satu gejala dari adanya beberapa sel tubuh saya yang sedikit kelelahan dengan semuannya. Tetapi, itu semua tidak begitu saya hiraukan. Saya tetap dengan sukacita membalas surat Bapak.
Semoga dalam Bapak menjalankan tugas selama beberapa hari ke depan dapat berjalan dengan lancar. Lancar perjalanan dari berangkat sampai pulang nanti. Pulang dengan membawa ilmu yang baru dan tambahan pengetahuan yang lebih. Kami mahasiswamu menunggu Bapak kembali dalam forum perkuliahan yang biasa kita lakukan dengan pemberian ilmu yang sudah Bapak terima dalam bertugas.
Bapak dosen yang saya hormati, sepertinya dari setiap tulisan yang Bapak sampaikan dalam surat ini memang benar adanya. Dari yang pandai-pandai menutup-nutupi segala kekurangan. Tapi saya tidak pernah mengurang-ngurangi kelebihan saya, karena bagi saya kelebihan saya tidaklah begitu lebih. Jadi, tidak perlulah untuk dikurang-kurangi, nanti yang ada malah habis. Dari pernyataan yang kedua yang sering makan indomie memang benar Pak. Hanya soal rasa saja yang selalu berubah dan berbeda. Akan tetapi, dari bahannya masih sama berbentuk mie instan, tak lain adalah indomie dan sedap. Saya tetap mensyukuri dari apapun yang saya makan, yang penting perut ini kenyang.
Selanjutnya, saya akan menjawab dari pertanyaan yang Bapak tanyakan dalam surat ini. Sepertinya Bapak memang sangat ingin mengetahuinya. Oleh karena itu, saya akan berusaha menjawab pertanyaan Bapak dengan sejujur-jujurnya, dan kalau bisa tanpa adanya suatu kebohongan. Pertanyaan yang pertama yaitu tentang persoalan sesungguhnya yang membuat malas membaca, yaitu bahwa sesungguhnya membaca membuat seseorang jenuh. Entah kenapa, menurut saya lebih mudah bila seseorang melihat secara langsung atau mendengarkan daripada harus dengan membaca. Membaca selain membuat jenuh, di sini membaca juga dapat perlu kecermatan atau ketekunan dalam memahami makna supaya bisa mengetahui informasi atau pengetahuan yang sebenarnya.
Pertanyaan yang kedua yaitu malas untuk berterus terang berbicara. Di sini menurut saya yaitu, bahwa tidak semua hal harus dibicarakan atau tidak harus disampaikan. Terkadang suatu hal itu bahwasannya perlu dimengerti oleh seseorang. Meskipun harus dipaksakan, tetap saja itu tidak bisa disampaikan.
Pertanyaan yang ketiga yaitu malas untuk mengutarakan, menyelatankan, atau bahkan membaratkan atau menimurkan gagasan atau ide yang sekecil apapun yang menyangkut barang sementara atau sesaat di benak Anda. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan yang kedua. Memang, suatu ide atau gagasan haruslah tersampaikan, supaya dapat dimengerti dan diketahui oleh seseorang. Tetapi terkadang, banyak hal yang tidak terutarakan. Ini bukanlah suatu kemalasan untuk mengutarakannya, melaikan terkadang seorang yang memiliki ide atau gagasan itu bingung untuk mengungkapkannya. Ini karena tidak ada bahasa yang bisa digunakan untuk mewakili gagasan itu.
Begitulah hal yang sejujurnya yang dapat terungkapkan di setiap pertayaan Bapak ke dalam surat ini. Saya sadar bahwa sebagai seorang yang hidup dan bersosial haruslah bisa menjadi orang yang cerdas dan bermanfaat bagi orang lain.


Ulasan Komentar dari Esai Teater Jaka Tarub oleh Rukayati

Mengomentari ulasan teater Jaka Tarub dari Rukayati mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang, bahwa ulasannya telah sesuai. Teater yang berlangsung di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang pada hari Selasa, 04 Oktober 2016. Acara pementasan diselenggarakan oleh teater Gema salah satu UKM di Universitas PGRI Semarang. Teater yang tidak hanya disaksikan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia melainkan juga siswa-siswi SMA.
Dia menyampaikan ulasannya secara urut, yaitu ketika antre sampai teater selesai. Teater dimulai pukul 15.00 WIB pada sesion pertama dan pukul 19.00 WIB yaitu pada sesion kedua. Jelas sudah meskipun harus berpanas-panasan yaitu dengan keadaan ruang tunggu sempit dan sudah banyak penonton yang antre, tetapi penonton tetap menunggu hingga pintu masuk dibuka. Hingga akhirnya penonton bisa masuk dan menyaksikan teater.
Bagian demi bagian disampaikannya secara jelas dan nyata. Mulai dari bagian yang pertama tadi saat antre, masuk ruangan dengan mengharuskan penonton berjalan disela tembok dan kain hitam yang gelap. Hanya ada suara hentakan sepatu yang mengiringi langkah para penonton. Dinginnya ruangan di tempat pementasan semakin menambah hening suasana sebelum pementasan dimulai. Bagian selanjutnya yaitu dengan munculnya dua wanita yang membuka acara atau sebagai pemandu selama acara berlangsung. Bagian lainnya yaitu ketika teater Jaka Tarub berlangsung dan di tengah cerita terdapat selingan dengan hadirnya dua tokoh yang bernama Topo dan Tomo. Kehadiran dua tokoh ini memberikan hiburan untuk penonton, yaitu dengan berbagai lelucon dan kekonyolannya. Kehadiran dua tokoh ini memang tidak ada hubungannya dalam cerita. Tetapi ini digunakan untuk menyambungkan cerita yang selanjutnya dan supaya cerita tidak monoton serta tidak ada kebingungan untuk penonton dengan cerita yang saat itu tiba-tiba harus berubah.
Dalam ulasannya, dia telah mencoba menggambarkan isi dari teater Jaka Tarub itu sendiri. Dia mencoba memberikan gambaran tentang bagaimana cerita teater Jaka Tarub itu terjadi. Seperti yang sudah pernah diketahui dari dulu bahwa cerita Jaka Tarub memang seperti itu, yaitu kisah kehidupan tokoh yang bernama Jaka Tarub yang mencuri selendang salah satu bidadari yang bernama Nawang Wulan dan menikahinya. Dalam cerita yang sering kita ketahui, di sini penonton disambut dengan pembawaan cerita yang berbeda meskipun mengandung cerita yang sama. Teater kali ini disajikan dengan sedemikian rupa untuk memberikan kesan yang berbeda pula. Memang benar dalam ulasan sebelumnya telah disampaikan bahwa cerita dimulai dengan terbangunya bapak dari mimpinya, yang kemudian dihampiri putri cantik bernama Nawangsih yang tidak lain adalah anak dari bapak itu.
Penggambaran tokoh dalam cerita sangat jelas terulas. Salah satunya yaitu penggambaran tokoh yang kurus, tinggi, dan berambut agak keriting bernama Jaka Tarub. Pemuda yang telah ditinggalkan ibunya meninggal dan yang diberi mandat untuk segera menikah. Penggambaran tokoh lain yaitu tidak lain adalah temannya Jaka Tarub yang memiliki perawakan gemuk yang menemani Jaka Tarub ketika terbangun dari mimpi yang di alaminya. Namun, penggambaran tokoh lain seperti Nawang Wulan dan para bidadari yang lain belum terulas dalam ulasan di atas. Padahal ini penting untuk memberikan gambaran kepada pembaca ulasan untuk mengetahui bagaimanakah perawakan seorang bidadari yang dinikahi Jaka Tarub itu.
Penggambaran suasana saat teater berlangsung juga sudah terulas dengan baik. Suasana gelap dan terdapat sorotan cahaya bulan purnama sudah nampak jelas. Setingan suasana yang tepat dengan keadaan saat itu sangat mempengaruhi berlangsungnya cerita. Cerita akan terasa hidup apabila ada pendukung seperti suasana dan penataan panggung yang tepat. Akan tetapi, dalam ulasan di atas tidak dijelaskan tentang instrumen musik yang mengiringi teater itu. Oleh karena itu, teater akan terkesan garing atau terasa sunyi tanpa adanya musik yang mengiringi.
Penonton yang secara antusias dalam menonton teater tersebut telah ditunjukkan melalui ulasannya. Dimana dalam ulasannya disampaikan dari awal ketika penonton harus menunggu sampai pintu masuk dibuka, meski harus menunggu cukup lama. Hal lain yaitu saat menyaksikan teater berlangsung, yang mana penonton secara rapi duduk berjejer dengan tenang dan mencoba menikmati teater Jaka Tarub. Tidak penting cerita teater itu sudah sering diketahuinya, melainkan tentang bagaimana sutradara mencoba membawakan dan mengemas cerita itu supaya tidak membosankan.
Akhir cerita dari teater Jaka Tarub telah diulas dengan sedemikian rupa. Cerita diakhiri dengan terbangunnya bapak dari tidurnya seperti yang ada di awal cerita dan sorot lampu kembali dimatikan. Namun sebelum cerita itu berakhir ada hal yang nampaknya membuat Nawang Wulan marah. Hal ini bisa diketahui ketika Jaka Tarub ingkar janji terhadap Nawang Wulan sehingga Nawang Wulan marah. Pada akhirnya Nawang Wulan mengetahui bahwa Jaka Tarub telah menyembunyikan selendangnya. Kemarahan Nawang Wulan semakin menjadi-jadi. Nawang Wulan berkata kepada Jaka bahwa cinta dan kebohongan itu suatu hal yang berbeda. Saat itu juga Nawang Wulan memutuskan untuk meninggalkan Jaka Tarub suaminya dan kembali ke kayangan. Acara ditutup oleh dua orang perempuan yang menjadi pemandu acara dari awal.


Esai Teater Jaka Tarub

Pada teater Jaka Tarub yang telah dipentaskan oleh teater Gema pada tanggal 4 Oktober 2016 ini menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub yang hidup dengan bayang-banyang akan permintaan terakhir dari ibunya sebelum meninggal. Permintaan terakhirnya yaitu tidak lain dan tidak bukan hanyalah mengharapkan anaknya untuk segera menikah. Pada suatu malam bulan purnama, Jaka Tarub bermimpi dalam tidurnya bahwa dia bertemu dengan seorang bidadari. Beberapa waktu kemudian, Jaka Tarub terbangun dari mimpi itu dengan berteriak. Terlalu kerasnya dia berteriak hingga membuat temannya menghampirinya. Setelah temannya mendapati Jaka Tarub terbangun dari mimpinya, temannya mencoba menanyakan akan apa yang telah terjadi kepada Jaka Tarub. Jaka Tarub menceritakan bahwa sebelum ibunya meninggal, dia diberi pesan oleh ibunya untuk segera menikah. Akan tetapi, setiap malam bulan purnama, dia selalu bermimpi tentang seorang bidadari. Namun, setiap cerita yang dilontarkan oleh Jaka Tarub, tidak satupun yang dipercaya oleh temannya itu, hingga akhirnya temannya meninggalkan Jaka Tarub sendiri di rumahnya.
Jaka Tarub merasa bingung dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, karena sampai saat ini pun setelah lama dari meninggal ibunya, dia belum bisa memenuhi pesan terakhir ibunya. Pada saat itu juga, Jaka Tarub memutuskan untuk pergi berburu di hutan. Sesampainya di hutan, dia tak mendapatkan seekor binarang pun. Jaka Tarub pun merasa kesal, bahawasannya apa yang diharapkan dari buruannya tidaklah ada dalam hutan itu. Beberapa waktu kemudian, karena dia telah lama menungu hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidur sejenak dengan bersandar di batu besar dekat sungai. Tanpa menunggu lama, tiba-tiba datang tujuh bidadari turun dari kayangan untuk mandi di sungai itu pada malam bulan purnama saat itu. Jaka Tarub terbangun dan terkejut dengan apa yang telah dia lihat. Jaka Tarub pun tidak percaya dengan yang dilihatnya, dan bergegaslah Jaka Tarub dari sandarannya di batu besar dekat sungai itu dan bersembunyi di belakang semak-semak dekat sungai. Dengan hati yang masih tidak percaya, Jaka Tarub mencoba untuk mendengarkan semua perbincangan ke tujuh bidadari itu.
Satu persatu ketujuh bidadari itu turun ke sungai dengan melepaskan selendangnya masing-masing. Selendang itu pun ditaruhnya di atas batu besar dekat sungai yang sebelumnya dijadikan sandaran Jaka Tarub untuk tidur. Malam purnama semakin indah dan semakin terang cahayanya, sehingga menjadikan ketujuh bidadari itu semakin senang mandi di bumi dengan alam yang indah. Namun, tanpa diketahui oleh para bidadari itu, Jaka Tarub telah mengambil dari salah satu selendang yang dimiliki oleh salah satu dari ketujuh bidadari itu. Malam purnama tak selamanya kan bersinar dengan indah, sehingga salah satu dari ketujuh bidadari itu untuk segera beranjak dari sungai itu. Ketujuh bidadari itu pun keluar dari sungai dan mengambil masing-masing selendangnya. Setiap bidadari mendapatkan masing-masing bagian dari selendangnya, dan hanya selendang bidadari Nawang Wulan atau bidadari yang tertua atau kakak dari antara bidadari yang lain yang belum menemukan selendangnya. Adik-adik dari Nawang Wulan itu mencoba membantu kakaknya untuk mencari selendang yang tengah hilang. Namun alhasil, di antara mereka tak satu pun yang berhasil menemukan selendang itu.
Di tengah pencarian selendang itu, tiba-tiba terdengar bunyi ayam berkokok yang menandakan bahwa hari akan segera pagi. Tidak mungkin apabila bidadari itu menetap di bumi, karena pasti akan banyak manusia yang mengetahui kedatangannya itu. Keenam bidadari itu kembali ke kayangan meninggalkan kakaknya yaitu bidadari Nawang Wulan. Adik-adiknya berpesan kepada kakaknya untuk berhati-hati. Nawang Wulan pun seorang diri di tengah hutan, hingga dia kembali masuk ke dalam sungai karena dia tidak mau jikalau ada manusia yang melihatnya.
Jaka Tarub masih tetap memandangi dari balik semak-semak. Hingga dia mendengar ketika Nawang Wulan bernazar akan selendangnya, yang apabila selendangnya ditemukan oleh seorang wanita maka akan dijadikannya seorang saudara, namun apabila ditemukan oleh seorang laki-laki maka akan dijadikan suaminya. Mendengar nazar dari Nawang Wulan, maka bergegaslah Jaka Tarub untuk segera pulang menaruh selendang yang telah diambinya dari Nawang Wulan. Sesampainya di rumah, Jaka Tarub mengambil pakaian untuk Nawang Wulan yang masih berendam di sungai dekan hutan tadi. Segeralah Jaka Tarub untuk kembali menemui Nawang Wulan. Seperti tidak ada kejadian yang tidak pernah dia lihat, tiba-tiba Jaka Tarub menghampiri Nawang Wulan. Jaka Tarub seolah-olah terkejut melihat keberadaan Nawang Wulan di sungai. Nawang Wulan menjelaskan, bahwa dia pada dasarnya adalah seorang bidadari yang hidup di kayangan yang sewaktu dia mandi di sungai itu dia telah kehilangan selendangnya, sehingga dia tidak bisa kembali ke kayangan. Lalu, Jaka Taru juga menegaskan akan apa yang telah dinaxarka Nawang Wulan mengenai selendangnya, apakah memang benar bila jika didapatkan oleh perempuan maka akan dijadikan saudara dan apabila ditemukan oleh laki-laki akan dijadikannya suami. Nawang Wulan pun mencoba menegaskan nazarnya, bahwa seorang bidadari tidaklah seseorang yang mengingkari apa yang telah diucapkannya. Mendengar semua ketegasan dari Nawang Wulan akan ucapannya, lalu Jaka Tarub memberikan sebuah baju kepada Nawang Wulan dan mengajaknya pulang ke rumahnya.
Namun, sebelum mengajaknya pulang, Jaka Tarub sempat berpikir akan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh para tetangganya terhadap kehadiran Nawang Wulan di rumahnya. Sejenak Jaka Tarub berpikir untuk jawaban yang akan diberikan kepada para tetangganya yang akan menanyakan kehadiran Nawang Wulan. Nawang Wulan akhirnya diajak pulang oleh Jaka Tarub ke rumahnya. Mereka pun menikah dan hidup bersama layaknya suami istri yang lainnya. Hati Jaka Tarub sangatlah senang, karena dia telah memenuhi pesan terakhir ibunya sebelum meninggal. Beberapa waktu kemudian, mengandunglah Nawang Wulan. Keluarga kecil Jaka Tarub semakin lengkap dengan kehadiran sang buah hati. Di waktu malam, Jaka Tarub dan Nawang Wulan sedang duduk di depan rumahnya dengan memandangi bulan purnama. Mereka sedang bersendaugurau dengan mencari-carikan nama yang cocok untuk anaknya nanti. Nawang Wulan meminta Jaka Tarub untuk memberi nama kepada anaknya. Apabila anaknya nanti laki-laki, maka akan diberi nama Jaka Utama seperti ayahnya yang bernama Jaka Tarub. Namun karena laki-laki yang lahir pertama maka diberi nama Jaka Utama, supaya nanti bisa terlahir seperti ayahnya yang tampan, gagah dan baik itu. Nawang Wulan pun menyetujui nama yang diberikan oleh suaminya. Lalu, Nawang Wulan menanyakan lagi apabila anak itu terlahir perempuan akan dinamakan siapakah nanti? Jaka Tarub pun berpikir, namun tak ditemukan nama yang cocok untuk anaknya nanti. Segeralah Nawang Wulan memberi nama Nawangsih, yaitu seperti namanya sendiri. Jaka Tarub berharap nama itu bisa secantik dengan ibunya. Pada suatu waktu, ketika Jaka Tarub pulang dari ladang, Jaka Tarub bertanya kepada Nawang Wulan terhadap beras yang ada di lumbung padi yang setiap harinya tidak pernah habis meski pun di makannya setiap hari.
Hidup Jaka Tarub tidaklah pernah merasa aneh kepada istrinya, karena Jaka Trub sangatlah menyayangi Nawang Wulan. Kehidupan mereka selalu dilingkupi dengan kebahagiaan karena adanya cinta di tengah-tengah keluarga itu. Apalagi sekarang akansegera ada kehadiran manusia baru yang tidak lain adalah buah hati mereka, yang akan segera lahir. Lengkap sudah kebahagiaan Jaka Tarub dan Nawang Wulan bila hal itu akan segera terjadi. Mereka pun tak sabar menunggu kelahiran itu tiba.
Di malam hari, melahirkanlah Nawang Wulan. Jaka Tarub bergegas memanggilkan dukun beranak untuk membantu proses kelahiran istrinya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama, melahirkanlah Nawang Wulan. Nawang Wulan melahirkan bayi perempuan yang cantik sepertinya dan diberi nama Nawangsih. Kelahiran itu, dan kebahagiaan Jaka Tarub dan Nawang Wulan benar-benar terjadi. Keluarga mereka ramai dan lebir berwarna dengan kehadiran sang buah hati. Nawangsih tumbuh menjadi bayi yang cantik, manis, persis seperti ibunya. Jaka Tarub pun semakin bahagia.
Di suatu hari, Nawang Wulan hendak mencuci pakaian di sungai dekat hutan. Nawangsih di titikan kepada Jaka Tarub untuk dijaganya selama Nawang Wulan mencuci. Sebelum Nawang Wulan pergi ke sungai, Nawang Wulan berpesan kepada suaminya bahwa dia tengah memasak nasi. Nawang Wulan berpesan jika jangan sampai suaminya nanti membuka masakkan itu. Apapun hasilnya jangan sampai dibuka oleh suaminya. Jaka Tarub merasa aneh dengan sikap Nawang Wulan. Diiyakannyalah perintah dari istri tercintanya, untuk mandat yang diberikan sebelum pergi mencuci ke sungai. Rasa penasaranpun hadir di dalam hati Jaka Tarub. Jaka Tarub hendak membuka masakan itu dan memastikan kematangan dari nasi yang dimasak oleh istrinya. Jaka Tarup pun membuka masakan itu, dan dilihatnyalah hanya sebatang pohon padi yang dimasak oleh Nawang Wulan. Terkejutlah Jaka Tarub melihat kejadian itu. Jaka Tarub mengira bahwa istrinya telah gila, karena telah memasak hanya sebatang padi.
Waktu sudah cukup lama untuk Nawang Wulan pergi mencuci di sungai sehingga akhirnya dia pulang. Sesampainya di rumah, Nawang Wulan segera memasukkan pakaian yang dicucinya tadi ke dalam rumah. Lalu di panggilnyalah Nawang Wulan oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub menanyakan akan apa yang telah dilakukan oleh Nawang Wulan terhadap masakan yang dimasak tadi sebelum berangkat ke sungai. Nawang Wulan pun marah kepada Jaka Tarub suaminya itu, karena Jaka Tarub telah mengingkari janjinya. Jaka Tarub mencoba menbenarkan perkataannya, bahwa dia hanya ingin memastikan masakan itu sudah matang apa belum. Tidak satu pun kata yang bisa dipercaya oleh Nawang Wulan karena Jaka Tarub sudah mengingkari janjinya tadi.