Hai para pembaca yang bisa baca, saya Dwi Ernawati anak dari yang katanya suami istri Pak Yamto dan Mak Yusmi. Namun, setelah saya menyadari suatu hubungan bawasannya memang benar bahwa mereka adalah suami istri, bukan katanya lagi. Saya anak kedua pastinya. Ini bisa kalian ketahuilah dari nama saya. Entah apa yang melatarbelakangi pemberian nama itu. Katanya dulu mau diberi nama Dwi Apriliani karena selain saya anak kedua, saya juga lahir di bulan April. Nama itu merupakan pemberian Pak De saya atau panggilan kerennya Om. Lalu, diganti menjadi Dwi Ernawati dari 'urun rembug' para Pak De saya. Setiap ada yang tanya arti atau makna nama saya, jelas saya tidak bisa menjelaskan. Hmmm, tampaknya nama saya memang tidak mempunyai arti. Tapi tidak mengapa, karena saya percaya identitas manusia tidak hanya dapat ketahui melalui nama saja, tapi juga bisa melalui hal lain. Hal lain itu baru saya cari saat ini, haha. Tapi sampai sekarang tampaknya belum terlihat.
Saya mempunyai kakak bernama Yohana Puji Lestari. Sekarang dia telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak dan suami pastinya. Seiring berjalannya pemikiran seseorang, saya mulai berpikir kenapa saya dan kakak saya itu sangat beda. Tidak mengapa karena manusia itu diciptakan dengan berbagai rupa dan pola pikir yang berbeda namun pada tujuan hidup yang sama pastinya. Saya dan kakak saya memang terlahir berbeda, tapi di sini saya tidak akan membicarakan tentang kakak saya. Jadi yang kalian ketahui hanya saya bukan kakak atau orang tua saya.
Baik, saya akan menjelaskan tentang pendidikan saya. Saya pertama masuk sekolah umur 6 tahun, dan sekolah di Taman Kanak-kanak lah namanya. TK yang saya sekolahi yaitu di TK PGRI NGABLAK. TK ini merupakan salah satu TK di Pati tepatnya di desa Ngablak. Sekolah yang pertama yang katanya sekolah yang sangat-sangat menyenangkan. Akan tetapi, sepertinya tidak untuk saya. Bagi saya, yang namanya sekolah adalah tempat yang membuat orang tertekan. Masih saya ingat, kali pertama saya masuk TK yaitu ketika teman-teman yang lain pakai seragam olahraga baru, dan saya belum memakai seragam baru itu. Hal ini karena ketika saya mendapat seragam baru ehh seragamnya kekecilan dan bagian lubang kepala tidak muat. Entah saya yang kecil-kecil sombong atau memang bajunya yang kecil juga saya tidak tahu. Jika teman yang lain TK selama dua tahun, di situ saya hanya satu tahun. Sepertinya orang tua saya sudah memahami bahwa kekanak-kanakan anaknya sudah cukup sampai satu tahun saja.
Selanjutnya, pendidikan setelah itu adalah sekolah dasar di SD Negeri 04 Ngsblak. Sekolah ini tidak jauh dari TK saya, karena terletak tepat di depan TK PGRI Ngablak. Hanya pindah kelas dan bangku saja yang membedakan, serta berganti guru. Meskipun saya tidak begitu pintar dan sepertinya juga tidak terlalu bodoh, namun saya tidak pernah tinggal kelas. Seperti sewajarnya dan seharusnya, saya menyelesaikan sekolah dasar tepat enam tahun. Saya cukup bersyukur dengan anugrah yang diberikan Tuhan. Di balik kurang pandainya saya, Dia selalu menyertai hidup saya, hingga saya lulus SD dan melanjutkan ke SMP.
Masa-masa sekolah yang benar-benar terasa yaitu saat masuk SMP. Setelah saya lulus dari SD saya melanjutkan ke SMP Negeri 1 Cluwak. Sekolah ini tidak lagi depannya TK atau SD saya dulu, tapi lebih dekat dengan rumah saya. Tiga tahun saya lalui. Tampaknya sekolah itu menyenangkan. Apalagi dapat bonus teman-teman yang cakep-cakep dan pandai, yang cakep bisa untuk membuat malas sekolah hilang, dan yang pandai bisa lah untuk wadah membuat pintar 'dikit'. Dari tiga tahun sekolah di SMP yang masih saya ingat yaitu ketika diminta keliling aula saat pembelajaran matematika dan tidak hafal rumus. Tradisi itu sudah ada sejak dulu dan ternyata tradisi itu masih ada sampai saat ini. Bermanfaat juga sih hukuman itu. Selain dapat olahraga bisa buat malu juga. Sepertinya tidak faedah banget sekolah saya sampai SMP sekalipun. Alhasil, saya lulus SMP dan lanjut ke SMA seperti yang lain.
Jujur menuju SMA merupakan pilihan yang membuat dilema. Antara SMK dan SMA sempat saya pikirkan. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih SMA Negeri 1 Tayu. Sekolah yang masih pada lingkup Pati. Sama seperti seharusnya tiga tahun saya sudah lulus, dan lagi-lagi dibuat dilema antara kuliah dan kerja atau nikah, hahaha. Setelah sudah terpikirkan hampir beberapa bulan sepertinya, saya pilih untuk kuliah saja. Saya kuliah di Univeraitas PGRI Semarang, dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan yang dilatarbelakangi karena tidak ada rumus-rumus dan bahasa Inggris ini menjadi faktor utama. Namun, setelah terjalani tampaknya rumitnya melebihi rumus-rumus dan bahasa Inggris ternyata. Akan tetapi saya mulai tersadarkan bahwa saya tidak salah pilih dengan memilih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Banyak hal yang saya pelajari dan bermanfaat dalam hidup saya.
Demikian sedikit deskripsi tentang saya yang dapat saya sampaikan. Meskipun masih banyak hal-hal yang belum tersampaikan, semoga dapat terwakilkan melalui beberapa paragraf yang membingungkan pembaca dan membuat aneh setelah membaca. Terima kasih sudah membaca.