Rabu, 21 Desember 2016



Esai Teater Jaka Tarub

Pada teater Jaka Tarub yang telah dipentaskan oleh teater Gema pada tanggal 4 Oktober 2016 ini menceritakan tentang kehidupan seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub yang hidup dengan bayang-banyang akan permintaan terakhir dari ibunya sebelum meninggal. Permintaan terakhirnya yaitu tidak lain dan tidak bukan hanyalah mengharapkan anaknya untuk segera menikah. Pada suatu malam bulan purnama, Jaka Tarub bermimpi dalam tidurnya bahwa dia bertemu dengan seorang bidadari. Beberapa waktu kemudian, Jaka Tarub terbangun dari mimpi itu dengan berteriak. Terlalu kerasnya dia berteriak hingga membuat temannya menghampirinya. Setelah temannya mendapati Jaka Tarub terbangun dari mimpinya, temannya mencoba menanyakan akan apa yang telah terjadi kepada Jaka Tarub. Jaka Tarub menceritakan bahwa sebelum ibunya meninggal, dia diberi pesan oleh ibunya untuk segera menikah. Akan tetapi, setiap malam bulan purnama, dia selalu bermimpi tentang seorang bidadari. Namun, setiap cerita yang dilontarkan oleh Jaka Tarub, tidak satupun yang dipercaya oleh temannya itu, hingga akhirnya temannya meninggalkan Jaka Tarub sendiri di rumahnya.
Jaka Tarub merasa bingung dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, karena sampai saat ini pun setelah lama dari meninggal ibunya, dia belum bisa memenuhi pesan terakhir ibunya. Pada saat itu juga, Jaka Tarub memutuskan untuk pergi berburu di hutan. Sesampainya di hutan, dia tak mendapatkan seekor binarang pun. Jaka Tarub pun merasa kesal, bahawasannya apa yang diharapkan dari buruannya tidaklah ada dalam hutan itu. Beberapa waktu kemudian, karena dia telah lama menungu hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidur sejenak dengan bersandar di batu besar dekat sungai. Tanpa menunggu lama, tiba-tiba datang tujuh bidadari turun dari kayangan untuk mandi di sungai itu pada malam bulan purnama saat itu. Jaka Tarub terbangun dan terkejut dengan apa yang telah dia lihat. Jaka Tarub pun tidak percaya dengan yang dilihatnya, dan bergegaslah Jaka Tarub dari sandarannya di batu besar dekat sungai itu dan bersembunyi di belakang semak-semak dekat sungai. Dengan hati yang masih tidak percaya, Jaka Tarub mencoba untuk mendengarkan semua perbincangan ke tujuh bidadari itu.
Satu persatu ketujuh bidadari itu turun ke sungai dengan melepaskan selendangnya masing-masing. Selendang itu pun ditaruhnya di atas batu besar dekat sungai yang sebelumnya dijadikan sandaran Jaka Tarub untuk tidur. Malam purnama semakin indah dan semakin terang cahayanya, sehingga menjadikan ketujuh bidadari itu semakin senang mandi di bumi dengan alam yang indah. Namun, tanpa diketahui oleh para bidadari itu, Jaka Tarub telah mengambil dari salah satu selendang yang dimiliki oleh salah satu dari ketujuh bidadari itu. Malam purnama tak selamanya kan bersinar dengan indah, sehingga salah satu dari ketujuh bidadari itu untuk segera beranjak dari sungai itu. Ketujuh bidadari itu pun keluar dari sungai dan mengambil masing-masing selendangnya. Setiap bidadari mendapatkan masing-masing bagian dari selendangnya, dan hanya selendang bidadari Nawang Wulan atau bidadari yang tertua atau kakak dari antara bidadari yang lain yang belum menemukan selendangnya. Adik-adik dari Nawang Wulan itu mencoba membantu kakaknya untuk mencari selendang yang tengah hilang. Namun alhasil, di antara mereka tak satu pun yang berhasil menemukan selendang itu.
Di tengah pencarian selendang itu, tiba-tiba terdengar bunyi ayam berkokok yang menandakan bahwa hari akan segera pagi. Tidak mungkin apabila bidadari itu menetap di bumi, karena pasti akan banyak manusia yang mengetahui kedatangannya itu. Keenam bidadari itu kembali ke kayangan meninggalkan kakaknya yaitu bidadari Nawang Wulan. Adik-adiknya berpesan kepada kakaknya untuk berhati-hati. Nawang Wulan pun seorang diri di tengah hutan, hingga dia kembali masuk ke dalam sungai karena dia tidak mau jikalau ada manusia yang melihatnya.
Jaka Tarub masih tetap memandangi dari balik semak-semak. Hingga dia mendengar ketika Nawang Wulan bernazar akan selendangnya, yang apabila selendangnya ditemukan oleh seorang wanita maka akan dijadikannya seorang saudara, namun apabila ditemukan oleh seorang laki-laki maka akan dijadikan suaminya. Mendengar nazar dari Nawang Wulan, maka bergegaslah Jaka Tarub untuk segera pulang menaruh selendang yang telah diambinya dari Nawang Wulan. Sesampainya di rumah, Jaka Tarub mengambil pakaian untuk Nawang Wulan yang masih berendam di sungai dekan hutan tadi. Segeralah Jaka Tarub untuk kembali menemui Nawang Wulan. Seperti tidak ada kejadian yang tidak pernah dia lihat, tiba-tiba Jaka Tarub menghampiri Nawang Wulan. Jaka Tarub seolah-olah terkejut melihat keberadaan Nawang Wulan di sungai. Nawang Wulan menjelaskan, bahwa dia pada dasarnya adalah seorang bidadari yang hidup di kayangan yang sewaktu dia mandi di sungai itu dia telah kehilangan selendangnya, sehingga dia tidak bisa kembali ke kayangan. Lalu, Jaka Taru juga menegaskan akan apa yang telah dinaxarka Nawang Wulan mengenai selendangnya, apakah memang benar bila jika didapatkan oleh perempuan maka akan dijadikan saudara dan apabila ditemukan oleh laki-laki akan dijadikannya suami. Nawang Wulan pun mencoba menegaskan nazarnya, bahwa seorang bidadari tidaklah seseorang yang mengingkari apa yang telah diucapkannya. Mendengar semua ketegasan dari Nawang Wulan akan ucapannya, lalu Jaka Tarub memberikan sebuah baju kepada Nawang Wulan dan mengajaknya pulang ke rumahnya.
Namun, sebelum mengajaknya pulang, Jaka Tarub sempat berpikir akan pertanyaan yang akan ditanyakan oleh para tetangganya terhadap kehadiran Nawang Wulan di rumahnya. Sejenak Jaka Tarub berpikir untuk jawaban yang akan diberikan kepada para tetangganya yang akan menanyakan kehadiran Nawang Wulan. Nawang Wulan akhirnya diajak pulang oleh Jaka Tarub ke rumahnya. Mereka pun menikah dan hidup bersama layaknya suami istri yang lainnya. Hati Jaka Tarub sangatlah senang, karena dia telah memenuhi pesan terakhir ibunya sebelum meninggal. Beberapa waktu kemudian, mengandunglah Nawang Wulan. Keluarga kecil Jaka Tarub semakin lengkap dengan kehadiran sang buah hati. Di waktu malam, Jaka Tarub dan Nawang Wulan sedang duduk di depan rumahnya dengan memandangi bulan purnama. Mereka sedang bersendaugurau dengan mencari-carikan nama yang cocok untuk anaknya nanti. Nawang Wulan meminta Jaka Tarub untuk memberi nama kepada anaknya. Apabila anaknya nanti laki-laki, maka akan diberi nama Jaka Utama seperti ayahnya yang bernama Jaka Tarub. Namun karena laki-laki yang lahir pertama maka diberi nama Jaka Utama, supaya nanti bisa terlahir seperti ayahnya yang tampan, gagah dan baik itu. Nawang Wulan pun menyetujui nama yang diberikan oleh suaminya. Lalu, Nawang Wulan menanyakan lagi apabila anak itu terlahir perempuan akan dinamakan siapakah nanti? Jaka Tarub pun berpikir, namun tak ditemukan nama yang cocok untuk anaknya nanti. Segeralah Nawang Wulan memberi nama Nawangsih, yaitu seperti namanya sendiri. Jaka Tarub berharap nama itu bisa secantik dengan ibunya. Pada suatu waktu, ketika Jaka Tarub pulang dari ladang, Jaka Tarub bertanya kepada Nawang Wulan terhadap beras yang ada di lumbung padi yang setiap harinya tidak pernah habis meski pun di makannya setiap hari.
Hidup Jaka Tarub tidaklah pernah merasa aneh kepada istrinya, karena Jaka Trub sangatlah menyayangi Nawang Wulan. Kehidupan mereka selalu dilingkupi dengan kebahagiaan karena adanya cinta di tengah-tengah keluarga itu. Apalagi sekarang akansegera ada kehadiran manusia baru yang tidak lain adalah buah hati mereka, yang akan segera lahir. Lengkap sudah kebahagiaan Jaka Tarub dan Nawang Wulan bila hal itu akan segera terjadi. Mereka pun tak sabar menunggu kelahiran itu tiba.
Di malam hari, melahirkanlah Nawang Wulan. Jaka Tarub bergegas memanggilkan dukun beranak untuk membantu proses kelahiran istrinya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama, melahirkanlah Nawang Wulan. Nawang Wulan melahirkan bayi perempuan yang cantik sepertinya dan diberi nama Nawangsih. Kelahiran itu, dan kebahagiaan Jaka Tarub dan Nawang Wulan benar-benar terjadi. Keluarga mereka ramai dan lebir berwarna dengan kehadiran sang buah hati. Nawangsih tumbuh menjadi bayi yang cantik, manis, persis seperti ibunya. Jaka Tarub pun semakin bahagia.
Di suatu hari, Nawang Wulan hendak mencuci pakaian di sungai dekat hutan. Nawangsih di titikan kepada Jaka Tarub untuk dijaganya selama Nawang Wulan mencuci. Sebelum Nawang Wulan pergi ke sungai, Nawang Wulan berpesan kepada suaminya bahwa dia tengah memasak nasi. Nawang Wulan berpesan jika jangan sampai suaminya nanti membuka masakkan itu. Apapun hasilnya jangan sampai dibuka oleh suaminya. Jaka Tarub merasa aneh dengan sikap Nawang Wulan. Diiyakannyalah perintah dari istri tercintanya, untuk mandat yang diberikan sebelum pergi mencuci ke sungai. Rasa penasaranpun hadir di dalam hati Jaka Tarub. Jaka Tarub hendak membuka masakan itu dan memastikan kematangan dari nasi yang dimasak oleh istrinya. Jaka Tarup pun membuka masakan itu, dan dilihatnyalah hanya sebatang pohon padi yang dimasak oleh Nawang Wulan. Terkejutlah Jaka Tarub melihat kejadian itu. Jaka Tarub mengira bahwa istrinya telah gila, karena telah memasak hanya sebatang padi.
Waktu sudah cukup lama untuk Nawang Wulan pergi mencuci di sungai sehingga akhirnya dia pulang. Sesampainya di rumah, Nawang Wulan segera memasukkan pakaian yang dicucinya tadi ke dalam rumah. Lalu di panggilnyalah Nawang Wulan oleh Jaka Tarub. Jaka Tarub menanyakan akan apa yang telah dilakukan oleh Nawang Wulan terhadap masakan yang dimasak tadi sebelum berangkat ke sungai. Nawang Wulan pun marah kepada Jaka Tarub suaminya itu, karena Jaka Tarub telah mengingkari janjinya. Jaka Tarub mencoba menbenarkan perkataannya, bahwa dia hanya ingin memastikan masakan itu sudah matang apa belum. Tidak satu pun kata yang bisa dipercaya oleh Nawang Wulan karena Jaka Tarub sudah mengingkari janjinya tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar