Balasan Surat
Selamat
malam, Bapak dosen Penulisan Media Massa yang saya hormati. Puji Tuhan kabar
saya baik Pak. Dari hari-hari yang sudah terlewatkan sepertinya banyak hal yang
terjadi dalam hidup saya. Entah mulai
dari hal-hal yang teramat kecil bahkan sampai hal yang teramat besar. Lalu,
dari suatu hal yang penting sampai hal yang tak begitu penting. Tetapi saya
mencoba menikmati itu semua. Harapan saya, semoga saya bisa melewati di hari
yang akan datang dengan menjadi pribadi yang semakin baik dan semakin
diperbaharui di dalam Tuhan.
Terima kasih atas perhatian Bapak melalui
surat ini. Meski harus melalui banyak kata-kata yang sekirannya bisa membuat
hati ini gemas. Tapi tidak apalah, hati ini sudah cukup terbiasa mengalami itu
semua. Satu hal yang saya sayangkan yaitu, kami tidak bisa bertemu kepada Bapak
dalam forum perkuliahan yang biasa kita lakukan di hari Senin pukul 10.50 WIB
dikarenakan adanya suatu tugas yang tidak bisa Bapak tinggalkan.
Surat
ini saya buat dalam kondisi hati yang bisa terbilang setengah muram dan
setengah bahagia, serta dalam kondisi tubuh yang tidak begitu sehat. Mungkin
ini salah satu gejala dari adanya beberapa sel tubuh saya yang sedikit
kelelahan dengan semuannya. Tetapi, itu semua tidak begitu saya hiraukan. Saya
tetap dengan sukacita membalas surat Bapak.
Semoga
dalam Bapak menjalankan tugas selama beberapa hari ke depan dapat berjalan
dengan lancar. Lancar perjalanan dari berangkat sampai pulang nanti. Pulang
dengan membawa ilmu yang baru dan tambahan pengetahuan yang lebih. Kami
mahasiswamu menunggu Bapak kembali dalam forum perkuliahan yang biasa kita
lakukan dengan pemberian ilmu yang sudah Bapak terima dalam bertugas.
Bapak
dosen yang saya hormati, sepertinya dari setiap tulisan yang Bapak sampaikan
dalam surat ini memang benar adanya. Dari yang pandai-pandai menutup-nutupi
segala kekurangan. Tapi saya tidak pernah mengurang-ngurangi kelebihan saya,
karena bagi saya kelebihan saya tidaklah begitu lebih. Jadi, tidak perlulah
untuk dikurang-kurangi, nanti yang ada malah habis. Dari pernyataan yang kedua
yang sering makan indomie memang benar Pak. Hanya soal rasa saja yang selalu
berubah dan berbeda. Akan tetapi, dari bahannya masih sama berbentuk mie
instan, tak lain adalah indomie dan sedap. Saya tetap mensyukuri dari apapun
yang saya makan, yang penting perut ini kenyang.
Selanjutnya,
saya akan menjawab dari pertanyaan yang Bapak tanyakan dalam surat ini.
Sepertinya Bapak memang sangat ingin mengetahuinya. Oleh karena itu, saya akan
berusaha menjawab pertanyaan Bapak dengan sejujur-jujurnya, dan kalau bisa
tanpa adanya suatu kebohongan. Pertanyaan yang pertama yaitu tentang persoalan
sesungguhnya yang membuat malas membaca, yaitu bahwa sesungguhnya membaca
membuat seseorang jenuh. Entah kenapa, menurut saya lebih mudah bila seseorang
melihat secara langsung atau mendengarkan daripada harus dengan membaca. Membaca
selain membuat jenuh, di sini membaca juga dapat perlu kecermatan atau
ketekunan dalam memahami makna supaya bisa mengetahui informasi atau
pengetahuan yang sebenarnya.
Pertanyaan
yang kedua yaitu malas untuk berterus terang berbicara. Di sini menurut saya
yaitu, bahwa tidak semua hal harus dibicarakan atau tidak harus disampaikan.
Terkadang suatu hal itu bahwasannya perlu dimengerti oleh seseorang. Meskipun
harus dipaksakan, tetap saja itu tidak bisa disampaikan.
Pertanyaan
yang ketiga yaitu malas untuk mengutarakan, menyelatankan, atau bahkan
membaratkan atau menimurkan gagasan atau ide yang sekecil apapun yang
menyangkut barang sementara atau sesaat di benak Anda. Pertanyaan ini sama
dengan pertanyaan yang kedua. Memang, suatu ide atau gagasan haruslah
tersampaikan, supaya dapat dimengerti dan diketahui oleh seseorang. Tetapi
terkadang, banyak hal yang tidak terutarakan. Ini bukanlah suatu kemalasan
untuk mengutarakannya, melaikan terkadang seorang yang memiliki ide atau
gagasan itu bingung untuk mengungkapkannya. Ini karena tidak ada bahasa yang
bisa digunakan untuk mewakili gagasan itu.
Begitulah
hal yang sejujurnya yang dapat terungkapkan di setiap pertayaan Bapak ke dalam
surat ini. Saya sadar bahwa sebagai seorang yang hidup dan bersosial haruslah
bisa menjadi orang yang cerdas dan bermanfaat bagi orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar